pranoto mongso

Senin, 12 Juli 2010

DARI TANAH KEMBALI KE TANAH!!!!




�Back to Nature�
TELAH menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.
BERIKUT INI ADA BEBERAPA RESEP YANG BISA DITERAPKAN SECARA MUDAH, MURAH, DAN DIHARAPKAN MANJUR :
PESTISODA ORGANIK:
Bahan yang diperlukan :
- Tembakau 1 kg
- air 4 liter
- kapur barus 7 butir dihaluskan
Cara pembuatannya :
- Tembakau direndam dalam 4 liter air selama 2 (dua) hari.
- Campurkan kapur barus yang telah dihaluskan.

Cara implementasi :
- Setiap 2 - 3 sendok makan air hasil proses rendaman tembakau dan kapur barus dicampur dengan air biasa 1 liter. - Semprotkan pada tanaman yang terserang hama/penyakit.
Allow rekan-rekan pecinta Tanaman,
Anda ingin membuat PESTISIDA ORGANIK (PREVENTIF) sendiri .. ??? Tetapi pestisida ini hanya mencegah / menghalau HAMA, seperti : Wereng, Ulat, Tungau Jingga, Keong Mas, Tungro, Kaper dll.
Silahkan ikuti langkah berikut ini :

BAHAN UTAMA adalah DAUN MIMBA ( Azadirachta Indica ) dan BIJI MIMBA ( Biasanya banyak terdapat di sepanjang Jalan arah luar Kota )
1. DAUN MIMBA.
CARA PEMBUATAN :
DAUN MIMBA segar 5 Kg ditumbuk dan dicampur Air 5 Liter, kemudian direbus sampai mendidih saja dan didiamkan semalam (di Fermentasi). Setelah itu disaring dimbil Airnya saja.
CARA PAKAI :
Dosis 1 Liter Air MIMBA Hasil Fermentasi dicampurkan dengan 15 Liter Air, Baru kemudian disemprotkan ke Tanaman yang terkena HAMA. Pemakaian yang EFEKTIF pada Tanaman terkena HAMA adalah setiap 2 Minggu sekali.

2. BIJI MIMBA.
CARA PEMBUATAN :
BIJI MIMBA 1 Kg ditumbuk HALUS ( Kalau bisa seperti KOPI bubuk )
CARA PAKAI :
Dosis 100 Gram BIJI MIMBA HALUS dicampurkan untuk 15 Liter Air, Baru kemudian disemprotkan ke Tanaman yang terkena HAMA. Pemakaian yang EFEKTIF pada Tanaman terkena HAMA adalah setiap 2 Minggu sekali.

Pestisida adalah zat pengendali hama (seperti: ulat, wereng dan kepik). Pestisida Organik: adalah pengendali hama yang dibuat dengan memanfaatkan zat racun dari gadung dan tembakau. Karena bahan-bahan ini mudah didapat oleh petani, maka pestisida organik dapat dibuat sendiri oleh petani sehingga menekan biaya produksi dan akrab denga lingkungan.

Bahan dan Alat:

2 kg gadung. 1 sendok makan minyak kelapa.
1 kg tembakau. Parutan kelapa.
2 ons terasi. Saringan kelapa (kain tipis).
¼ kg jaringao (dringo). Ember plastik.
4 liter air. Nampan plastik.



CARA MEMBUAT



Minyak kelapa dioleskan pada kulit tangan dan kaki (sebagai perisai dari getah gadung).
Gadung dikupas kulitnya dan diparut.
Tembakau digodok atau dapat juga direndam dengan 3 liter air panas
Jaringao ditumbuk kemudian direndam dengan ½ liter air panas
Tembakau, jaringao, dan terasi direndam sendiri-sendiri selama 24 jam. Kemudian dilakukan penyaringan satu per satu dan dijadikan satu wadah sehingga hasil perasan ramuan tersebut menjadi 5 liter larutan.
Dosis:

1 gelas larutan dicampur 5-10 liter air.
2 gelas larutan dicampur 10-14 liter air.
Kegunaan:

Dapat menekan populasi serangan hama dan penyakit.
Dapat menolak hama dan penyakit.
Dapat mengundang makanan tambahan musuh alami.
Sasaran:

Wereng batang coklat, Lembing batu, Ulat grayak, ulat hama putih palsu.

Catatan: Meskipun ramuan ini lebih akrab lingkungan, penggunaannya harus memperhatikan batas ambang populasi hama. Ramuan ini hanya digunakan setelah polulasi hama berada atau di atas ambang kendali. Penggunaan di bawah batas ambang dan berlebihan dikhawatirkan akan mematikan musuh alami hama yang bersangkutan.

Daun Sirsak (Nangka Belanda) ternyata dapat digunakan sebagai bahan pestisida organik untuk mengendalikan Hama Thrips pada tanaman Cabai.

Caranya :

50 - 100 lembar daun sirsak dihaluskan (boleh pake blender) dan dicampur dengan 5 liter air kemudian didiamkan selama sehari semalam, rendaman tersebut kemudian disaring dengan kain.

1 liter hasil saringan dapat dicampurkan dengan 1 tangki semprot ukuran 17 liter, dan gunakan untuk menyemprot tanaman cabe, Thrips pun akan lenyap.
Selamat mencoba.

Membuat pupuk Effective Microorganisme atau EM

Pupuk EM adalah pupuk organik yang dibuat melalui proses fermentasi menggunakan bakteri (microorganisme). Sampah organik dengan proses EM dapat menjadi pupuk organik yang bermanfaat meningkatkan kualitas tanah.

Beriikut langkah-langkah pembuatan pupuk menggunakan EM :

Pembuatan bakteri penghancur (EM).

Bahan-bahan :
Susu sapi atau susu kambing murni.
Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di dalam usus.
Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/kulit udang, kepala ikan) + 1 kg Gula pasir (perasan tebu) + 1 kg bekatul + 1 buah nanas + 10 liter air bersih.

Alat-alat yang diperlukan :

Panci, kompor dan blender/parutan untuk menghaluskan nanas.

Cara pembuatan :
Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati.
Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan.
Tambahkan susu, isi usus ayam atau kambing.
Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung.
Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket.

Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang. Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri.

Pestisida Organik
Resep I
Bahan yang diperlukan :
- Tembakau ½ kg;
- air 2 liter;
- kapur banus 4 butir digerus.

Cara pembuatannya:
- Tembakau direndam air 2 liter selama dua hari.
- Campurkan gerusan kapur barus.
- Setiap 2 sendok makan rendaman tembakau dan kapur barus dicampur dengan air cucian 1 liter. - Semprotkan pada tanaman yang sedang kena hama penyakit.
Resep II



BAHAN YANG DIPERLUKAN :



- tembakau 1 ons;
- jahe 1 ons;
- bawang putih 1 ons;
- air 5 liter.

Cara pembuatannya:
Jahe dan bawang putih dihaluskan, campur dengan tembakau dan masukkan air, tutup rapat dan simpan selama 2 hari 2 malam langsung digunakan. Resep pengendali hama ini bisa digunakan untuk 10.000 m2 lahan.
Sebaiknya pestisida ini digunakan pada sore hari sekitar pukul 16.00 atau 17.00 WIB. Kalau masih ada sisa bisa disimpan kurang Iebih 1 minggu. Pemakaian bisa diulangi kalau hama penyakitnya masih belum hilang tuntas.
Pengendali hama ini lebih efektif bila digunakan untuk tiga kali pemakaian, atau kalau misalnya masih tersisa banyak bisa disimpan di tempat yang tidak terkena sinar matahari.
Sumber: Warintek


TIM PENYULUH BP3K PARAKAN

PENGENDALIAN LALAT BUAH SECARA HAYATI / ALAMI







MySpace Graphics
MySpace Graphics
MySpace Graphics

Lalat buah ( fruit flys)
LALAT BUAH merupakan serangga yang populer merusak buah buahan serta sayuran, keadaan ini sangat merugikan petani besar dan juga kecil serta yang memiliki kebun kecil di rumah. Lalat buah akan menyerang tanaman berbuah dan sayuran berbuah seperti belimbing, mangga, jambu, cabai/ lombok, terong, tomat, nangka dan beberapa lagi buah buahan tropis yang kita tanam dengan cara menyuntikan telur kedalam buah buahan tersebut, ini akan menyebabkan buah buahan serta sayur tersebut rusak sebelum dapat dipetik. Siklus hidup lalat buah selama 20- 28 hari, selama hidupnya kawin dan bertelur dapat menghasilkan 1200 butir telur.
Adapun ciri umum lain dari Drosophila melanogaster diantaranya:
1. Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.
2. Berukuran kecil, antara 3-5 mm.
3. Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.
4. Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
5. Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung.
6. Mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah.
7. Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.
8. Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam
9. Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax.

Pengendalian yang dilakukan pada umumnya adalah dengan pembungkusan buah-buahan ataupun pemberonjongan pohonnya dengan kasa, pengasapan untuk mengusir lalat buah, penyemprotan dengan insektisida, pemadatan tanah di bawah pohon untuk memutus siklus hidup serta penggunaan atraktan (zat pemikat) yang salah satunya berbahan methyl eugenol. Namun demikian, cara-cara pengendalian ini dirasa masih kurang efektif, karena tidak dilakukan secara serentak dan kontinyu, sehingga daerah yang tidak dikendalikan menjadi sumber infeksi di masa mendatang. Selain hal teknis, juga masalah mahalnya zat pengendali, khususnya atraktan lalat buah, sehingga petani/pengguna belum semuanya mampu memperoleh bahan ini. Sebagai contoh, atraktan komersial yang ada di pasaran saat ini harganya sangat mahal per liternya.
Dalam sistem pengendaliannya, lalat buah sebenarnya mempunyai musuh alami yang bisa didapatkan dalam kehidupan sehari – hari, pemanfaatan musuh secara alam ini sebenarnya sangat efektif dilihat dari segi biaya dan efek – efek negative penggunaanya di bandingkan secara kimiawi.
Tanaman aromatik yakni tanaman yang mampu mengeluarkan aroma, bisa juga digunakan untuk mengendalikan lalat buah. Di antaranya jenis selasih/ kemangi(Ocimum), yaitu O.minimum, O.tenuiflorum, O.sanctum dan lainnya. Selain tanaman selasih ada juga tanaman lain, yaitu Melaleuca bracteata / kayu putih dan tanaman yang bersifat sinergis (meningkatkan efektifitas atraktan), seperti pala (Myristica fragans). Semua tanaman ini mengandung bahan aktif yang disukai oleh lalat buah, yaitu Methyl eugenol, dengan
kadar yang berbeda.
Dengan menanam tanaman tersebut disekitar lahan maka akan mengurangi serangan yang meluas.
Minyak cemara hantu / kayu putih (Melaleuca bracteata) dan minyak selasih/ kemangi (Ocimum sanctum) berpeluang menjadi atraktan karena mengandung metil eugenol cukup tinggi. Sesuai dengan fungsinya sebagai atraktan, minyak tersebut hanya bersifat menarik lalat buah tetapi tidak membunuhnya. Oleh karena itu, penggunaan minyak tersebut harus dilengkapi dengan alat yang dapat menjebak atau menangkap lalat buah.
pengendalian lalat lainnya dengan perangkap
Perangkap model ini dibuat dari bahan sederhana, yaitu botol plastik bekas kemasan air mineral . Sepertiga bagian kepala botol dipotong, kemudian potongan dimasukkan ke botol dengan mulut botol berada di bagian dalam (tutupbotolnya dibuka). Bagian depan dan belakang botol diikat dengan kawat agar mudah digantungkan di pohon. Pada bagian tengah botol diikatkan segumpal kapas yang ditetesi 2-4 ml metil eugenol, kemudian botol diisi dengan air seperempat bagian (jangan sampai mengenai kapas). Dengan adanya air, lalat yang masuk ke dalam botol akan tenggelam dan mati. Perangkap dipasang agak miring agar air tidak tumpah. Dalam waktu satu minggu, perangkap ini dapat menjebak/mematikan 50-150 ekor lalat buah jantan.
Keunggulan dari perangkap model ini adalah menggunakan bahan yang murah dan mudah diperoleh, cara membuatnya pun cukup mudah, dan dapat dibawa ke lapangan.
Kelemahannya, kalau sering turun hujan, air dalam botol akan bertambah sehingga merendam kapas yang mengandung metil eugenol. Akibatnya perangkap tidak ber-fungsi. Oleh karena itu, sebaiknya setelah turun hujan dilakukan pe-ngecekan untuk mengetahui kondisi perangkap.
Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan (Silvia, 2003)

Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).

Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari. (Silvia, 2003). Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai.tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut (Borror, 1992).

Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernafasan pada trakea, terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior (Silvia, 2003).

Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integumen baru diperluas dengan kecepatan makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada prose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago (Ashburner, 1985).

Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa.

Saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa (Ashburner, 1985)

Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa (Silvia, 2003).

Dewasa pada Drosophila melanogaster dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan.

Pada ujung anterior terdapat mikrophyle, tempat spermatozoa masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam mikrophyle tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronuleus betina dan yang lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio. (Borror, 1992)

Senin, 05 Juli 2010



:) BALAI PENYULUHAN HIDUP :)
:) PETANI DAN PENYULUH BANGKIT :)
:) REVITALISASI PENYULUHAN DIMULAI DARI BALAI PENYULUHAN :)



BALAI PENYULUHAN PERTANIAN PERIKANAN DAN KEHUTANAN
PARAKAN-TEMANGGUNG-JATENG-INDONESIA





DARI DAN UNTUK PETANI





Sabtu, 03 Juli 2010

SEJARAH KEBERADAAN INSTANSI BP3K PARAKAN











SEJARAH KEBERADAAN INSTANSI BP3K PARAKAN

Pada Tahun 1949 Dicetuskan Organisasi atau Perkumpulan Balai pendidikan masyarakat desa di Indonesia oleh menteri pertanian Bapak Kasima. Jenis pendidikan antara lain home industry (home ekonimic), jahit menjahit, dan industry pertanian. Dan pada tingkat Kabupaten Dibentuk BPMD Balai Pendidikan Masyarakat Desa di Tingkat Kabupaten Temanggung. Tahun 1955 di bentuk BPMD Cabang / Ranting di Parakan, beralamat di Jalan Kosasih Parakan Dengan nama “ SRI BANGUN “ gerakan pemuda “ Bertekad Dan Beritikad Bina Bangsa Peran Serta Bangun Negara” Tahun 1976 BPMD diubah menjadi BPP ( Balai Penyuluhan Pertanian ) dari dana bank dunia (IBRD) untuk Negara berkembang. Tahun 2003 di tingkat Kabupaten Dibentuk Balai Informasi Penyuluhan Pertanian (BIPP),selanjutnya Tahun 2009 BPP Berubah menjadi BP3K ( Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan ) dan Khusus di Kecamatan Parakan Diresmikan Oleh Bupati Temanggung pada Tanggal 29 Januari 2009, dihadiri oleh Bapak Ir. Mulyono Machmur , MS ( Kapusluh ) dan dari SETBAKORLUH Propinsi JATENG.

Tanggal 28 APRIL 2010 nama BP3K Kecamatan Parakan Di tambah menjadi BP3K “ BAMBU RUNCING “ karena merupakan ciri khas Parakan sehingga mudah dikenal dan diterima oleh masyarakat, khususnya para petani. Keberadaan Bp3k yang strategis menjadikan dipercayanya BP3K oleh Pusdatin Kementerian Pertanian RI sebagai BPPPK Percontohan “ TELECENTER “ sebagai sarana untuk mengakses informasi dan teknologi sehingga para petani, kelompok tani, wanita tani lebih cepat memperoleh ilmu pertanian dan diterapkan dalam usaha taninya.

Telecenter diresmikan oleh Ir. BUDIARTO, MT ( Wabup Temanggung, dihadiri oleh Kepala Pusdatin Kementerian pertanian secara langasung , Sekertariat Bakorluh tingkat Propinsi Jawa Tengah, DPRD, Pejabat SKPD Kabupaten Temanggung. Pemanfaatan telecenter sebagai salah satu upaya memberikan inocasi teknologi yang bisa member nilai tambah dari pendapatan / penghasilan dan meningkatkan kesejahrteraan dari keluarganya. Demi mempercepat informasi dan teknologi – teknologi pertanian maka BP3K Bambu runcing membuat blog dengan alamat :

http://bp3kbamburuncingparakan.blogspot.com/

http://bp3kbamburuncing.wordpress.com/

email : bp3kbamburuncingparakan@gmail.com

facebook : www.Facebook.com/balaipenyuluhanpertanian parakan

Dengan diresmikannya BP3K maka Keberadaan kelembagaan penyuluhan ditingkat Kecamatan semakin kuat dan sesuai dengan undang - undang no. 16 tahun 2006

Pembagian tugas BPPPK
Sector pertanian merupakan sector yang paling luas cakupanya meliputi perkebunan, peternakan, perikanan, penghijauan, dan pertanian itu sendiri.

Unit – unit kerja BP3K
1. PPL Pertanian (3 Orang)
-Mukh Yani, STP,SPKP /Koordinator BP3K, Divisi SDM & Sapras
-Widyastuti Laraswarni, SP /Sekretaris
-Tukul Santoso, SPt / Divisi Agribisnis
2. PPL Perkebunan dan Kehutanan (1 Orang)
-Dini Filiyanti, Amd, SE /Divisi Kelembagaan Petani
3. PPL Perikanan (1 Orang)
-Mahmud Efendi, Amd /Divisi Teknologi dan Informasi
4. THL - TBPP (6 Orang)
-Dwi Fatmawati, SP
-Erifa Khadida
-Gunawan, SP
-Heri Sulistyo
-Masykur Yunianto, Amd
-Ristian Priyo Utomo
5. Pengamat Hama Penyakit Tanaman / Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (1 Orang)
-Widarto, SP
6. UPTD Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan (2 Orang)
-Haryanto, Bsc /Ka.UPT Dintanbunhut
-Suripyanto /Staff Dintanbunhut

KEADAAN UMUM WILAYAH KECAMATAN PARAKAN

A. TOPOGRAFI

1. Lokasi dan Batas Desa

Kecamatan Parakan wilayahnya sebagian terletak di lereng Gunung Sundoro dan lereng Gunung Sumbing dan sebagian besar terletak terhampar persawahan dan tegalan serta sungai-sungai sebagai pengairan dan jalan-jalan transportasi untuk kegiatan usaha baik bidang pertanian dan perdagangan lainnya. Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Parakan sebagai berikut : - Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ngadirejo - Sebelah timur berbatasan dengan Kec. Kedu & Jumo, - Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bulu - Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kledung & Bansari.

Kecamatan Parakan (BP3K Parakan) terdiri dari 2 Kelurahan dan 14 Desa yaitu : Kelurahan Parakan wetan Kelurahan Parakan Kauman, Desa Glapansari, Desa Sunggingsari, Desa Caturanom, Desa Depokharjo, Desa Watu Kumpul, Desa Ringinanom, Desa Dangkel, Desa Mandisari, Desa Tegalroso, Desa Traji, Desa Bagusan, Desa Nglondong, Desa Campursalam, Desa Wanu Tengah

2. Ketinggian Tempat

Kecamatan Parakan terletak di lereng Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing dengan ketinggian tempat berkisar antara 500 s/d 1.200 meter diatas permukaan laut. Ketinggian 800-1.200 m dpl di wilayah Desa Glapansari. Ketinggian 600-800 m dpl di Desa Sunggingsari. Ketinggian 500-600 m dpl di Desa caturanom, Watu Kumpul. Ketinggian dibawah 500 m dpl di Kelurahan Parakan Wetan, Parakan Kauman, Desa Ringinanom, Desa Dangkel, Desa mandisari, Desa Tegalroso, Desa Traji, Desa Bagusan, Desa Nglondong, Desa Campursalam, Desa Wanu Tengah.

3. Karasteristik Tanah

a. Sifat Tanah - Tanah subur : 70 % - Tanah sedang : 20 % - Tanah kurang subur : 15 % - Tanah tandus : 5 %

b. Jenis Tanah - Latosol cokelat : 35 % di wilayah Parakan Tengah - Latosol kemerahan : 15 % di sebelah timur Parakan - Latosol Kekuningan : 30 % di timur dan barat Parakan - Regusol : 15 % di dekat sungai - Andosol : 5 % di lereng gunung

c. PH Tanah - Basa : 7,5 - 8,5 - Netral : 6,5 - 7,5 - Asam : 5 - 6,5 - Sangat asam : 4 ke bawah

4. Luas Wilayah dan Penggunaan Tanah Kecamatan Parakan/ BPP Parakan mempunyai luas : 2.928,8 Ha yang terdiri dari Lahan Sawah : 1.152,20 Ha, Lahan Kering : 1.675,36 Ha, Pekarangan : 310,70 Ha, Hutan Rakyat/ Negara : 800,50 Ha, Kolam Ikan : 8,10 Ha, Perairan/ Sungai : 7 Ha, Lain-lain : 61,04 Ha.

B. IKLIM

1. Curah Hujan Keadaan curah hujan di wilayah Kabupaten Temanggung khususnya Kecamatan Parakan selama 5 tahun (2004 s/d 2008) rata-rata dalam 1 tahun : 2.178 mm, dengan jumlah hari hujan 136 hari. Curah hujan rata-rata tiap bulan : 182,25 mm, hari hujan : 12 hari. Data curah hujan dapat dilihat pada tabel 2 dan 3. S

2. Suhu dan Kelembaban Wilayah Kecamatan Parakan merupakan daerah agak bergelombang terutama darah lereng Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing dengan ketinggian antara 800-1200 m dpl, suhu harian rata-rata 240 C dengan suhu minimun 190 C, maksimum 280 C. Kelembaban rata-rata 82 % (Lab. Perlindungan Tanaman Pangan Prop. Jateng, Kedu 2008). Dengan suhu rata-rata 240 C maka udara agak basah, dingin dan tidak panas, hama penyakit serta virus, bakteri kurang berkembang dibanding di daerah panas cepat berkembang. Maka usaha di bidang pertanian, peternakan akan lebih berhasil. Tanaman, ternak tidak terlalu diporsir tenaga dan energi yang dikeluarkan, apalagi didukung oleh SDM da SDA serta bibit unggul akan menghasilkan produk unggul dan untung yang tinggi.

C. DATA PENDUDUK KECAMATAN PARAKAN TAHUN 2009

1. Jumlah Penduduk Kecamatan Parakan Tahun 2009

a. Laki-laki

Umur 1 - 5 Tahun : 660 orang

Umur 6 - 11 Tahun : 2.629 orang

Umur 12 - 15 Tahun : 7.315 orang

Umur 16 - 19 Tahun : 8.932 orang

Umur 20 - 59 Tahun : 5.874 orang

Umur > 60 Tahun : 1.336 orang

Jumlah : 24.264 orang

b. Perempuan

Umur 1 - 5 Tahun : 715 orang

Umur 6 - 11 Tahun : 2.332 orang

Umur 12 - 15 Tahun : 6.666 orang

Umur 16 - 19 Tahun : 9.482 orang

Umur 20 - 59 Tahun : 5.962 orang

Umur > 60 Tahun : 1.447 orang

Jumlah : 25.540 orang

Dapat disimpulkan bahwa penduduk Kecamatan Parakan usia produktif jumlahnya : 27.500 orang atau 56 % dari jumlah penduduk.

2. Jumlah Penduduk Kecamatan Parakan Berdasarkan Mata Pencaharian

a. Petani - Petani Pemilik : 6.632 orang

- Petani Penggarap : 8.421 orang

- Petani Pemilik & Penggarap : 9.200 orang

- Buruh Tani : 7.284 orang Jumlah : 31.537 orang

b. Nelayan : 200 orang

c. Pengusaha Besar/ Kecil : 2.210 orang

d. Pengarajin/ Industri : 2.120 orang

e. Buruh Bangunan : 2.230 orang

f. Pedagang : 3.100 orang

g.Transportasi/ Angkutan : 2.488 orang

h. PNS : 1.840 orang

i. TNI/ Polri : 275 orang

j. Pensiunan : 110 orang

h. Lain-lain : 2.800 orang Sumber Monografi Kecamatan Parakan

Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian adalah petani : 31.538 orang yang terlibat dalam usaha taninya (64,3 %) dari jumlah penduduk.

3. Jumlah Penduduk Kecamatan Parakan Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan

a. Belum Sekolah : 12.478 orang

b. Tidak Tamat SD : 5.858 orang

c. Tamat SD Sederajat : 4.363 orang

d. Tamat SLTP Sederajat : 11.756 orang

e. Tamat SLTA Sederajat : 7.266 orang

f. Tamat Akademi : 2.441 orang

g. Tamat Perguruan Tinggi : 4.878 orang

h. Buta Huruf : 1.157 orang Jumlah : 50.197 orang Sumber Monografi Kecamatan Parakan Dari data tersebut di atas menunjukan bahwa pendidikan mayoritas tingakt pendidikan SLTP, keadaan demikian tentang Sumber Daya Manusia. Jumlah penduduk berdasarkan latar belakang pendidikan adalah tamat SLTP : 11.640 orang (25,7 %) disusul tamat SLTA : 7.195 orang (14,6 %). Sehingga SDMnya cukup potensial dalam usaha untuk usaha taninya.

4. Jumlah Penduduk Kecamatan Parakan Berdasarkan KK Keluarga

a. Jumlah Penduduk : 49.001 orang

b. Jumlah KK : 12.178 KK

c. Jumlah RT : d. Jumlah RW : 5. Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah penduduk dengan seluruh luas wilayah, sedang kepadatan penduduk secara agraris adalah perbandingan antara penduduk yang punya kepemilikan lahan pertanian atau garapan, penyebaran penduduk jumlah penduduk dibagi seluruh desa dan luas desa. Kecamatan Parakan (BP3K Parakan) mempunyai jumlah penduduk : 57.197 orang, luas wilayah : 1.929, 89 Ha, penyebaran penduduk : 1-23 % orang tiap desa, kepadatannya penduduk : 7,25 per Km2.

D. Data Petugas Pemerintah yang Terkait di Bidang Pertanian a. UPTD Pertanian : 1 orang - Staf Struktural : 2 orang - Fungsional : 4 orang - Fungsional Kontrak : 6 orang b. Pengamat Hama/ PHP : 1 orang (merangkap 3 Kecamatan) d. Petugas Pengairan : 1 orang (merangkap 3 Kecamatan) e. Petugas Perikanan : 3 orang Dalam melaksanakan tugas saling berkomunikasi dan kerja sama dalam pemecahan masalah.

E. Data Kelompok Tani Jumlah kelompok tani yang ada di Kecamatan Parakan sebagian besar kelompok tani masih kelas lanjut, baru taraf pembenahan dan berjalan kurang lancar ada kendala dalam kegiatan kelompok.

Jumlah Kelompok Tani, Wanita Tani, Taruna Tani :

a. Kelompok Tani Pemula : 37 kelompok

b. Kelompok Tani Lanjut : 33 kelompok

c. Kelompok Tani Madya : - kelompok

d. Kelompok Tani Utama : - kelompok

F. Kelembagaan Pertanian

a. Koperasi Unit Desa (KUD) : 2 buah

b. BRI Unit : 1 buah

c. BRI Cabang : 1 buah

d. BNI : - buah

e. BPD : 1 buah

f. Bank Pasar : - buah

g. BKK : 1 buah

h. Kios Saprodi : 9 buah

i. Koperasi Tani : 5 buah

j. Koperasi Serba Usaha : 2 buah

Kelembagaan yang ada di Kecamatan Parakan sangat mendukung permodalan bagi usaha tani, kelompok tani , baik bentuk Kredit maupun Tabungan dan Pinjaman.

G. Data Sarana dan Prasarana Pemasaran

a. Sarana antara lain : 1. Toko : 402 buah 2. Kios : 203 buah 3. Pasar : 3 buah 4. Warung : 154 buah 5. Toko Serba Ada : 3 buah Keberadaan sarana tersebut sangat mendukung dan menyediakan keperluan sehari-hari petani untuk beraktivitas.

b. Prasarana 1. Kendaraan angkut roda - Bis : 75 buah - Oplet swata : 108 buah - Oplet buka : 325 buah - Truk : 80 buah 2. Kendaraan angkut roda 3 - Traktor : 12 buah - Becak : 38 buah 3. Kendaraan roda 2 - Sepeda motor : 7000 buah - Sepeda : 1500 buah 4. Dokar/ Kereta : 63 buah 5. Selepan : 28 buah Prasarana transportasi, komunikasi dan pemasaran cukup, ke semua Desa dan Dusun dapat terjangkau dengan kendaraan roda 4 dan roda 2, bahkan jalan ke tegal / sawah bisa dilalui kendaraan roda 4 dan roda 2 untuk mengangkut hasil dan pupuk kandang. Jalan Desa sebagian besar sudah diaspal/ dibatu.

H. Data Penggunaan Teknologi di Tingkat Petani Kecamatan Parakan

a. Penggunaan teknologi di tingkat petani disesuaikan dengan teknologi apa yang dipakai sehari-hari petani dalam usaha taninya di lahan pertanian. Dengan jalan membandingkan teknologi baru dan lama/ lokal lalu dinilai dengan prosentase, sehingga bisa diketahui tingkat teknologi yang diserap petani.

b. Penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan ditempuh melalui program intensifikasi dengan menerapkan : 1. Memakai bibit unggul/ bibit yang cocok dan baik; 2. Pengolahan lahan yang baik, tepat dan cepat sesuai jadwal tanam; 3. Pengaturan air pada tanaman yang tepat waktu; 4. Pemupukan yang sesuai dengan kesuburuan lahan dan jenis pupuk, penggunaan pupuk organik; 5. Pengendalian hama penyakit terpadu dan penggunaan pestisida ramah lingkungan; 6. Penanganan pasca panen yang tepat; 7. Pemasaran hasil sesuai permintaan pasar.

I. Data Lahan dan Komoditas Utama Kecamatan Parakan

a. Keadaan Lahan Menurut Ekosistem

1) Sawah - Teknis : 417, 82 Ha - ½ Teknis : 567,49 Ha - Sederhana : 100,89 Ha - Tadah Hujan : 70,70 Ha Jumlah : 1.152,20 Ha

2) Tegal : 473,72 Ha 3) Pekarangan : 239,58 Ha 4) Perkebunan : 16,32 Ha 5) Kehutanan : 713,30 Ha 6) Perikanan - Kolam : 3,50 Ha - Mina Padi : 4,60 Ha Lain-lain : 61,04 Ha

J. Program - Program BP3K Kecamatan Parakan :
1. FEATI / P3TIP
Desa Caturanom
Desa Dangkel
Desa Depokharjo
Desa Bagusan
Desa Nglondong
2. PUAP
Ds. Bagusan
Ds. Campursalam
Ds. Nglondong
Ds. Traji
Kel. Parakan Wetan
3. SLPTT Padi
Kelurahan Parakan wetan Kelurahan Parakan Kauman, Desa Glapansari, Desa Sunggingsari, Desa Caturanom, Desa Depokharjo, Desa Watu Kumpul, Desa Ringinanom, Desa Dangkel, Desa Mandisari, Desa Tegalroso, Desa Traji, Desa Bagusan, Desa Nglondong, Desa Campursalam, Desa Wanu Tengah
4. BLBU Padi
Desa Sunggingsari, Desa Caturanom, Desa Depokharjo, Desa Watu Kumpul, Desa Dangkel, Desa Mandisari, Desa Tegalroso, Desa Traji, Desa Bagusan,
5. DBHCHT ( Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau )
Pelatihan Kelembagaan Petani, SL Agribisnis Tembakau, Pelatihan & Bantuan Ternak Sapi, Pelatihan Tanaman Pangan,
6. Ketahanan Pangan
Bantuan Ketela Pohon Mekar Manik
7. Lingkungan hidup
Sumur resapan, Gully plug, Bibit tanaman
8. KKP-E ( Kredit Ketahanan Pangan dan Energi )
Kredit lunak Ternak Sapi