

Desember 2009, Yus Yusuf menebar 2.000 bibit bawal air tawar (BAT) di kolam seluas 140 m2. Selang 6 bulan Yus menjaring 1 ton Colossoma macropomum ukuran konsumsi berbobot 500 g/ekor. Dengan harga Rp8.000/kg, peternak di Kampung Cigadog, Sukabumi, Jawa Barat, itu meraup omzet Rp8-juta.
Pembesaran sampai ukuran konsumsi di kolam berdinding tembok itu baru berjalan 2 tahun. Sebelumnya Yus hanya memproduksi 100.000 bibit yang dipelihara dari larva sampai ukuran 2,5-5 cm selama 1,5 bulan. Namun, setiap kali menyeleksi bibit, ada 2.000 ekor yang panjangnya di atas 5 cm. ‘Ukuran itu di luar permintaan sehingga terbuang percuma,’ ujar Yus yang kemudian membesarkan bibit tidak lulus sortir itu.
Yus memiliki 5 kolam pembesaran yang luas totalnya mencapai 720 m2. Setiap kolam diisi 2.000-3.000 bibit ukuran di atas 5 cm pada waktu yang berbeda. Pada panen perdana dari 3 kolam, pria 60 tahun itu mendapat 5 ton BAT berbobot 300-500 g/ekor. Yus tidak memanen sekaligus, melainkan secara bertahap: 200 kg/hari. ‘Itu untuk memenuhi permintaan dari kolam pemancingan di seputar Sukabumi,’ kata Yus. Dua kolam lain menghasilkan 2 ton yang dipanen 2 bulan kemudian. Semua hasil panen diborong pengepul untuk dikirim ke pelelangan ikan di Muaraangke, Jakarta Utara.
Naik daun
Budidaya bawal air tawar (BAT) di kolam seperti dilakukan Yus tengah berkembang. Sejak 1990-an sampai saat ini pembesaran BAT banyak dilakukan di waduk memakai karamba jaring apung. Kini waduk sudah padat diisi ikan konsumsi lain seperti mas dan nila, sehingga peternak beralih ke kolam.
‘Waduk Cirata padat oleh karamba ikan mas,’ ujar Otong Zaenal Arifin, peneliti di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT). Padahal pembesaran di waduk rentan terkena upwelling, yakni air di dasar waduk naik ke permukaan. Penguraian kotoran dan sisa pakan menjadi amonia yang ikut naik dapat meracuni ikan. Oleh karena itu kolam menjadi solusi budidaya ikan konsumsi, termasuk BAT.
Tren membudidayakan bawal tampak di Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta. Peternak membudidayakan ikan asal Amazon, Amerika Selatan, itu sebanyak 70-80%. Sisanya nila merah. ‘Bawal diproduksi untuk memenuhi permintaan pasar seputaran Yogyakarta dan Jawa Tengah yang mencapai 3 ton/minggu. Pasokan saat ini baru 1,4 ton,’ ucap Edi Priyono, penyuluh perikanan di kecamatan itu.
Di sana bawal dipolikultur dengan nila. Alasannya, ‘Harga nila lebih tinggi, Rp12.000 per kg; bawal Rp8.000/kg,’ kata Subandi yang menebar 80% bawal dan 20% nila di kolam berukuran 300 m2. Porsi bawal lebih banyak karena serapannya di Sleman masih lebih tinggi. Maklum, nila baru berkembang sejak 2 tahun terakhir; bawal sudah sejak 2000-an
Permintaan tinggi
Nun di Cihideung, Bogor, Jawa Barat, Yohanes Sukaryanto juga membesarkan 3.000 bibit bawal di kolam berukuran 12 m x 4 m. Dari bibit seukuran korek yang dipelihara selama 4 bulan, Yohanes memanen 1,5 ton BAT berbobot 6-7 ons/ekor.
Sama seperti di Sleman, serapan pasar bawal di Bogor, cukup besar. Yohanes setiap hari mendapat order dari 5 pedagang ikan di sekitar Pamulang dan Ciputat-keduanya Jakarta Selatan-serta Bogor. ‘Masing-masing pedagang memesan 800 kg tapi yang bisa terpasok 30%,’ ucap Yohanes.
Bawal banyak diserap restoran, rumah makan, dan warung. Warung tenda milik Mba Par di Bogor, misalnya, butuh 2-3 kg/hari. ‘Saya tidak bisa banyak menyediakan banyak bawal karena susah mendapatnya. Paling pol 10-11 ekor. Itu pun jika tidak telat datang ke pasar,’ imbuh Par yang menjual menu bawal seharga Rp10.000 per porsi.
Harga rendah
Bukan tanpa sebab pasokan BAT rendah. Sebagian peternak mempermasalahkan harga bawal yang kadang jatuh akibat panen dari waduk. ‘Musim penghujan air waduk meluap sehingga peternak menjual dengan harga di bawah Rp8.000 per kg,’ ujar Yohanes. Padahal, biaya produksi cukup tinggi terutama karena pakan yang harganya Rp570.000/kuintal. Dengan food convertion ratio (FCR)-kemampuan ikan menyerap pakan-1:2, untuk mencapai bobot 500 g/ekor bawal butuh pakan 1 kg atau senilai Rp5.700.
Keluhan serupa dilontarkan Asep Garlih, peternak di Ciamis, Jawa Barat. ‘Harga jual bawal rendah, hanya Rp8.500/kg. Kalau tidak rugi, untung peternak sangat tipis. Padahal, sampai panen butuh waktu 5-6 bulan,’ kata Asep yang menebar 5.000 bibit ukuran koin di kolam seluas 300 m2. Untuk menekan biaya pakan Yus menyiasatinya dengan memberikan pakan berupa limbah sayuran. ‘Toh bawal omnivora, jika diberi limbah sayuran juga mau,’ kata Yus.
Yang penting pakan harus mengandung 40% protein hewani dan 60% nabati. Bahkan pelet bisa dibuat sendiri dengan cara mencampur 300 kg dedak, 100 kg kue atau roti sisa, 50 kg bungkil kelapa, dan 50 kg ampas tahu. Semua bahan dicampur 200 kg telur gagal tetas, 100 kg keong mas, dan 100 kg bubuk ikan asin. Selanjutnya dijemur selama 2-3 hari lalu digiling menggunakan mesin penggiling daging.
Biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg pelet Rp2.500/kg. Pelet tahan simpan 2-3 bulan itu diberikan sebanyak 2,5% dari bobot ikan/hari. Berdasarkan pengamatan Yus dengan pelet buatan FCR meningkat 1:1. Sehingga peternak memetik untuk sekitar Rp2.000/kg, bila harga jual Rp8.500/kg.
Benih laku
Maraknya pembudidayaan bawal air tawar tercermin dari permintaan bibit. Denny Rusmawan di Cibaraja, Sukabumi, setiap 2 kali seminggu mengirim minimal 5.000 bibit/kirim ke Tanjungpandan (Belitung), Pontianak, Balikpapan, dan Jayapura. ‘Pada awal Juli 2010 saya kirim 50.000 bibit ukuran 7,5 cm ke Pontianak, Kalimantan Barat,’ ucap Denny. Angka itu mengalami kenaikan sebesar 10% dari tahun sebelumnya.
Manisnya permintaan benih juga dirasakan Sunardi di Parung, Bogor, sejak 3 tahun lalu. ‘Permintaan bibit ukuran
2,5 cm mencapai 100.000 ekor; ukuran 10-15 cm 400.000 ekor,’ katanya. Itu semua untuk memenuhi peternak pembesar di Jabodetabek, Bandung, Medan, Malang, dan Tegal. Sunardi mematok harga bibit Rp150/ekor ukuran 2,5 cm dan Rp300/ekor ukuran 5 cm. Sunardi yakin bila harga bibit terjangkau dan relatif stabil mendorong peternak untuk mendulang rupiah dari pembesaran BAT. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Ratu Annisa)
.jpg)
.jpg)
.jpg)



