pranoto mongso

Selasa, 01 Februari 2011

deskripsi varietas padi



DESKRIPSI VARIETAS PADI
Deskripsi varietas tanaman padi

1. INPARI 1
Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 952/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008. Ciri-ciri varietas ini bentuk tanaman tegak, dengan tinggi tanaman 93 cm, jumlah anakan produktif
mencapai 16 anakan, dan tekstur nasi pulen. Keunggulan varietas ini adalah ketahanan terhadap wereng batang coklat biotipe 2, serta agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, selain itu varietas INPARI 1 mempunyai ketahanan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri, serta tahan rebah. Umur tanaman yang relatif pendek (108 hari) adalah keunggulan lain dari varietas ini. Yang paling penting dari suatu varietas unggul adalah potensi produksi yang cukup tinggi, rata-rata produksi varietas INPARI 7,32 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG) serta mempunyai potensi produksi 10 ton/ha GKG.

2. INPARI 2
Varietas INPARI 2 termasuk golongan cere, dengan umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 85-95 cm, dengan jumlah anakan 15 anakan. Potensi hasil Varietas ini adalah 7,30 ton/ha dengan rata-rata hasil 5,83 ton/ha. Varietas ini cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl. Varietas INPARI 2 agak tahan terhadap hama wereng batang coklat, penyakit hawar daun bakteri, penyakit virus tungro. Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 951/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

3. INPARI 3
Varietas INPARI 3 cocok ditanam pada lahan irigasi dengan ketinggian sampai 600 m dpl. Varietas ini termasuk dalam golongan cere, dengan umur tanaman 110 hari. Potensi hasil varietas yang dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 953/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008 ini mencapai 7,52 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,05 ton/ha. Varietas ini tahan terhadap hama wereng batang coklat dan agak tahan terhadap penyakit Hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro inokulum variasi 073, 013 dan 031.

4. INPARI 4
Tidak begitu berbeda dengan Varietas INPARllainnya, INPARI4 juga memiliki ketahanan terhadap ham a . wereng batang coklat, dan agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, serta agak tahan penyakit virus tungro inokulum varian 073 dan 031. Potensi hasil 8,80 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,04 ton/ha. Varietas ini termasuk dalam golongan cere dengan umur tanaman 115 hari, tinggi tanaman 95-105 cm, dan 16 jumlah anakan. Varietas INPARI4 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 954/Kpts/SR.120/7/2008
Tanggal 17Juli 2008.

5. INPARI 5 MERAWU
Varietas INPARI 5 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 955/Kpts/SR.120/7/2008 tanggal 17 Juli 2008. Varietas ini termasuk golongan cere, dengan umu! tanaman 115 hari, tinggi tanaman 100-105 cm, dan jumlah anakan 15 anakan. Varietas INPARI 5 agak rentan terhadap hama wereng batang coklat Biotipe I, 2, dan 3, tetapi varietas ini agak tahan terhac:lap penyakit hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro nokulum varian 073 dan 031. Padaumumnya varietas . INPARI 5 cocok ditanam pada lahan irigasi dengan ketinggian sampai dengan 600 m dpl.

6. IN PARI 6 JETE
Termasuk golongan cere indica dengan umur tanaman 118 hari, tinggi tanaman 100 cm, jumlah anakan 15 batang. INPARI 6 memiliki tekstur nasi sangat pulen dengan kadar amilosa 18 %. Potensi produksi varietas INPARI 6 produktivitas 8,60 ton/ha GKG; 12 ton/ ha GKG. Varietas ini tahan rebah, serta tahan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 2 dan 3 serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, IV dan strain VIII. Varietas INPARI 6 JETE diiepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 956/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

Inbrida Padi Rawa (IN PARA) Inbrida Padi Rawa adalah varietas-varietas unggul padi yang baik dibudidayakan pada kondisi lahan rawa, tahan terhadap rendaman, serta daya adaptasi pada kondisi lahan masam. Macamnya :

I. INPARA I
Varietas INPARA I termasuk dalam golongan Cere Indica, dengan umur tanaman 131 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman III cm, jmlah anakan produktif varietas INPARA I dapat mencapa 18 anakan. Apabila ditanam pada kondisi lahan rawa lebak rata-rata hasil dapat mencapai 5,65 ton/ha, sedangkan apabila ditanam pada kondisi lahan rawa pasang surut rata-rata hasllnya lebih rendah yaitu 4,45 ton/ha. Varietas INPARA I memiliki potensi hasil cukup tinggi yaitu 6,47 ton/ha. lahan rawa, baik rawa lebak maupun rawa pasang surut umumnya mengandung Fe dan AI cukup tinggi, kedua unsur ini apabila dalam kondisi banyak dapat menyebabkan keracunan pada tanaman.
Varietas IN PARA I memiliki toleransi keracunan Fe dan AI serta agak tahan terhadap serangan wereng batang coklat Biotipe I dan 2, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan bias. Varietas ini cocok ditanam di daerah rawa lebak dan rawa pasang surut. Varietas INPARA I dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 957/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

2. INPARA 2
INPARA 2 merupakan varietas yang termasuk dalam golongan cere indica, varietas ini agak tahan terhadap wereng batang coklat Biotipe 2 serta tahan terhadap hawar daun dan blass, serta memiliki toleransi terhadap keracunan Fe dan AI. INPARA 2 baik ditanam pada lahan pasang surut dan lahan rawa lebak. Ciri dari varietas ini adalah umur tanaman 128 hari, bentuk tanaman tegak, ketahanan terhadap rebah sedang, tinggi tanaman 103 cm dengan jumlah anakan produktif mancapai 16 batang. Potensi hasil INPARA 2 mencapai 6,08 ton/ha dengan rata-rata hasil pada lahan rawa lebak 5,49 ton/ha, dan pada lahan rawa pasang surut 4,82 ton/ha. Varietas INPARA 2 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 958/Kpts/SR.120/7!2008 tanggal 17Juli 2008.

3. INPARA 3
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 960/Kpts/SR.120/7I2008 Tanggal 17 Juli 2008 Varietas INPARA 3 dilepas. INPARA 3 agak toleran rendaman selama 6 hari pada fase vegetatif, agak toleran keracunan Fe dan AI, baik ditanam di daerah rawa lebak, rawa pasang surut potensial dan di sawah
irigasi yang rawan terhadap banjir. Varietas INPARA 3 termasuk dalam golongan cere indica, tekstur nasi pera, dengan umur tanaman 127 hari, tinggi tanaman 108 cm, bentuk tanaman tegak, dengan jumlah anakan produktif 17 anakan. Potensi hasillNPARA 3 mancapai 5,6 ton/ha, dengan rata-rata hasil 4,6 ton/ ha GKG.

Sumber :
http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/241/
(mzt14n)

Selasa, 21 Desember 2010

" P R A N O T O M O N G S O "



APAKAH DENGAN PERUBAHAN IKLIM DI SAAT INI RUMUS " PRANOTO MONGSO " MASIH BERLAKU ????

kebiasaan / titen / hafalan itulah kata yang tersirat dari benak kita, dari jaman dahulu kala telah berlaku suatu tatanan di bidang pertanian, baik ilmu bududaya, pola tanam maupun hama dan penyakit. keberadaan "kitab" yang sering dipakai dalam dasar budidaya tanaman ini telah berlangsung turun temurun dari nenek moyang dan ternyata ketepatan perkiraan yang mendekati " jitu " tetapi bahkan sangat dipercayai oleh banyak petani di tanah jawa pada khususnya.
dengan keadaan yang hampir berubah total dari tahun - tahun dahulu kala, maka jika dihubungkan dengan pranoto mongso yang ada tersebut sulit untuk diterapkan dalam sistem usaha tani disaat ini. dari beberapa petani yang ada, perhitungan - perhitungan dalam perkiraan untuk usaha tani.
dasar dalam menentukan usaha tani di prediksi dengan cara antara lain melihat potensi pasar baik dari kualitas maupun kuantitas, perkembangan produk - produk benih yang terjual banyak, dan bulan - bulan tertentu yang diperkirakan banyak diadakan acara - acara seremonial sesuai kepercayaan dan adat masyarakat setempat.
(mzt14n)

Sabtu, 11 Desember 2010

FORUM WANITA TANI "BAMBU RUNCING " PARAKAN JUARA 1 LOMBA TINGKAT KABUPATEN








Kelembagaan KWT yang ada di seluruh Kecamatan PARAKAN sejumlah 27 aktif yang mana tiap – tiap mempunyai usaha – usaha di sektor pertanian. Pengembangan kelembagaan ini berasal dari pembinaan – pembinaan yang dilakukan rutin oleh penyuluh wilayah masing – masing. Dengan kegiatan yang ada maka dibentuk suatu forum di tingkat Kecamatan dengan nama “ Bambu Runcing ” dengan dasar sebagai ciri khas Kecamatan Parakan.
Adanya Forum wanita tani ini sebagai pendukung Kelembagaan Pertanian karena dinilai telah eksis dan independen dalam berusahatani, khususnya dalam hal pengolahan hasil, industry rumah tangga, pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan terlantar, dan sektor pemasaran hasil. Tujuan adanya forum wanita tani (FWT) adalah untuk saling belajar dan tukar menukar informasi. Di samping itu dengan adanya forum wanita tani tersebut diharapkan terbentuknya jaringan antar kelompok wanita tani yang telah dibina dan kelompok wanita tani di luar yang sudah ada.
seperti ditulis pada website resmi Kabupaten Temanggung, dalam acara lomba olahan jagung pulut, ketela pohon dan lomba merangkai bunga tingkat Kabupaten Temanggung bahwa Forum Wanita Tani " Bambu Runcing " Parakan mendapat juara dalam berbagai lomba.

informasi yang dapat diakses :
http://www.temanggungkab.go.id/detailberita.php?bid=596

40 RESEP OLAHAN JAGUNG DAN KETELA

TEMANGGUNG, Bertempat di Aula Sasana Benih Unggul Dintanbunhut Kabupaten Temanggung, Sabtu (4/12) dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Temanggung dan Hari Ibu untuk meningkatkan kreatifitas wanita tani, Wanita Tani Kabupaten Temanggung mengadakan Lomba Penganekaragaman makanan olahan dari bahan Ketela dan Jagung pulut serta merangkai bunga dari bunga kebun.
Dalam sela-sela meninjau hasil olahan dari Jagung pulut dan ketela Bupati Temanggung Drs. Hasyim Afandi berpesan kepada peserta kita bisa menciptakan aneka kreasi masakan baik dari bahan jagung pulut dan ketela selanjutnya harus dipikirkan bagaimana pemasarannya. Diharapkan apa yang telah di hasilkan dapat menambah pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Ketua Forum Wanita Tani Ibu Sukesi menyampaikan bahwa terbentuknya Forum wanita tani pada tanggal 8 agustus 2007 hanya beranggotakan 30 orang dan sampai sekarang sudah 60 orang dari 20 kecamatan. Pada awalnya pertemuan ibu-ibu bergabung dengan pertemuan bapak-bapak. Dengan bimbingan dari Bapeluh kemudian mengadakan pertemuan sendiri dengant tujuan untuk meningkatkan pendapatan melalui pengolahan hasil pertanian dan peternakan. Selanjutnya setiap 2 bulan sekali diadakan pertemuan dengan berbagai kegiatan seperti memasak, pengetahuan tentang pengemasan yang bagus, ijin usaha, dan pemasaran. Dan apa yang dihasilkan dari beberapa pertemuan dapat dilihat dalam lomba dan bazar yang dilaksanakan saat ini.
Sedangkan Ibu Istiadah selaku panitia melaporkan bahwa lomba olahan dari jagung pulut dan ketela dan merangkai bunga diikuti perwakilan dari 20 kecamatan. Untuk masakan yang dinilai meliputi komposisi bahan, cita rasa, kreatifitas dan penampilan sedangkan untuk lomba merangkai bunga keserasianm komposisi bunga, kebersihan, keindahan dan ketepatan waktu.
Juri Lomba berasal dari PKK Kabupaten, Dharma Wanita Bapeluh dan Ketahanan Pangan, dan Bapermades. Disampaikan Ketua Juri Ny. Ir Hardyat Heru Sasongko, hasil yang diolah cukup menarik, enak dan berfariasi walaupun dalam lomba olahan masih banyak bahan campuran dan bahan dasar lokal yang tidak ada serta untuk merangkai bunga masih kurang dalam komposisi dan sudut pandang yang belum direncanakan.
”Kedepannya PKK Kabupaten siap untuk membimbing kelompok wanita tani yang berminat manambah pengetahuannya” tambahnya.
Pada acara lomba kali ini tercipta 20 resep olahan dari jagung dan 20 resep olahan dari bahan ketela. Antara lain hasil olahan tersebut kue paha jagung, Donat jagung, Geplak, Krawu, Jenang, Bolu, Krawu, Rolade, Dadar lemper Lapis, Rolade. Kroket, Cake , Singnas ceri, Prol Tape, Pastel sampe dengan Pizza Mocal.
Kejuaraan lomba kali ini terdiri dari juara 1, 2, 3 dan harapan 1 dan 2. untuk Lomba Bahan Olahan dari Ketela juara 1 dari kecamatan Tembarak disusul Kecamatan Pringsurat, Kecamatan Kranggan, Kecamatan Wonoboyo dan Kecamatan Kedu. Untuk olahan dari Jagung Juara 1 dari Kecamatan Parakan disusul dari kecamatan Kranggan, Kecamatan Wonoboyo, Kecamatan Jumo dan Kecamatan Tretep. Sedangkan untuk juara merangkai bungan juara 1 dari Kecamatan Tretep disusul kecamatan Kledung, Jumo Tlogomulyo dan selanjutnya harapan 2 Kecamatan Parakan.

WDitut)

FORUM WANITA TANI "BAMBU RUNCING " PARAKAN




PROFIL FWT BAMBURUNCING
Kecamatan Parakan wilayahnya sebagian terletak di lereng Gunung Sindoro dan lereng Gunung Sumbing dan sebagian besar terletak terhampar persawahan dan tegalan serta sungai-sungai sebagai pengairan dan jalan-jalan transportasi untuk kegiatan usaha baik bidang pertanian dan perdagangan lainnya. Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Parakan sebagai berikut : - Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ngadirejo - Sebelah timur berbatasan dengan Kec. Kedu & Jumo, - Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bulu - Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kledung & Bansari.
Wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan Dan Kehutanan Kecamatan Parakan (BP3K Parakan) Kecamatan Parakan terletak di lereng Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing dengan ketinggian tempat berkisar antara 500 s/d 1.200 meter diatas permukaan laut. Ketinggian 800-1.200 m dpl di wilayah Desa Glapansari. Ketinggian 600-800 m dpl di Desa Sunggingsari. Ketinggian 500-600 m dpl di Desa caturanom, Watukumpul. Ketinggian dibawah 500 m dpl di Kelurahan Parakan Wetan, Parakan Kauman, Desa Ringinanom, Desa Dangkel, Desa mandisari, Desa Tegalroso, Desa Traji, Desa Bagusan, Desa Nglondong, Desa Campursalam, Desa Wanu Tengah.
Kelembagaan KWT yang ada di seluruh Kecamatan sejumlah 27 aktif yang mana tiap – tiap mempunyai usaha – usaha di sektor pertanian. Pengembangan kelembagaan ini berasal dari pembinaan – pembinaan yang dilakukan rutin oleh penyuluh wilayah masing – masing. Dengan kegiatan yang ada maka dibentuk suatu forum di tingkat Kecamatan dengan nama “ Bambu Runcing ” dengan dasar sebagai ciri khas Kecamatan Parakan.
Adanya Forum wanita tani ini sebagai pendukung Kelembagaan Pertanian karena dinilai telah eksis dan independen dalam berusahatani, khususnya dalam hal pengolahan hasil, industry rumah tangga, pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan terlantar, dan sektor pemasaran hasil. Tujuan adanya forum wanita tani (FWT) adalah untuk saling belajar dan tukar menukar informasi. Di samping itu dengan adanya forum wanita tani tersebut diharapkan terbentuknya jaringan antar kelompok wanita tani yang telah dibina dan kelompok wanita tani di luar yang sudah ada.
Dengan adanya pembentukan forum wanita tani tingkat Kecamatan maka akan mempercepat transfer teknologi & penggunaan teknologi di masyarakat disesuaikan dengan teknologi apa yang dipakai sehari-hari dalam usaha taninya di sektor - sektor pertanian. Dengan jalan membandingkan teknologi baru dan lama/ lokal lalu dinilai dengan prosentase, sehingga bisa diketahui tingkat teknologi yang diserap. Penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas ditempuh melalui program intensifikasi usaha demi mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama yang berusaha sektor pertanian di Kecamatan Parakan. (MZT14N)

SUSUNAN PENGURUS
FWT BAMBURUNCING PARAKAN
KETUA I : ARIYATI
KETUA II : DEWI ISTANTI
SEKRETARIS I : SITI KHOIRIYAH
SEKRETARIS II : SURATMI
BENDAHARA I : HENI PUJI RAHAYU
BENDAHARA II : FITRI ANINGSIH
SIE SDM : MARTIN PUJI LESTARI
RODHIATUN
ASRIKHAH
SIE PEMASARAN : KIRTI TARBIYAH
ISTIADAH
SITI ROHANAH
SIE USAHA : SOIMAH
WIDAYANTI
SIE KEORGANISASIAN : WAKHIDAYAH
MARFUAH
KUN MARYATI
SIE HUMAS : SRIYATI
ENDANG ERNAWATI
SUTANTI