pranoto mongso

Senin, 25 Juli 2011

REMBUG TANI BP MODEL





KEGIATAN BINTEK PENGENDALIAN OPT SE-KABUPATEN TEMANGGUNG DI BP3K BAMBURUNCING PARAKAN



KEGIATAN BINTEK PENGENDALIAN OPT DIBP3K BAMBURUNCING PARAKAN DIIKUTI 100 ORANG PESERTA DARI SELURUH WILAYAH KABUPATEN TEMANGGUNG,
DIHADIRI OLEH :
1. PROF. Dr. Ir EDHI MARTONO, MSc ( NARASUMBER DARI UGM )
2. KEPALA BPTPH PROPINSI JATENG (DIWAKILI OLEH Ir. WRINDRIATMONO)
3. KEPALA LABORATORIUM HPT PROPINSI JATENG ( Ir. RETNO )
4. KEPALA DINTANBUNHUT (DIWAKILI OLEH Ir. SUNARDI )
5. PETUGAS POPT/PHP SE KAB TEMANGGUNG
6. KAUPT DINTANBUNHUT KEC. PARAKAN
7. KOORDINATOR & PENYULUH KEC. PARAKAN
8. PETANI HORTIKULTURA SEKAB. TEMANGGUNG

KEGIATAN BALAI PENYULUHAN MODEL

POSLUHDES DESA TRAJI DAN CATURANOM KECAMATAN PARAKAN


KUNJUNGAN WAKIL BUPATI MENINJAU KEGIATAN DI DESA TRAJI


WABUP TEMANGGUNG MENINJAU CABAI YANG HARGANYA TURUN SEHINGGA DIKERINGKAN


KEGIATAN SOSIALISASI POSLUHDES OLEH BAKORLUH PROPINSI JAWA TENGAH


PEMBUKAAN POSLUHDES DI DESA CATURANOM

Sabtu, 25 Juni 2011

Panen Demplot Kubis oleh Bapak Bupati Temanggung di BP3K Parakan




pemotongan Kobis oleh Bupati TMG.








PANEN KOBIS OLEH BUPATI TEMANGGUNG
DI LAHAN PERCONTOHAN SAYURAN BP3K “BAMBURUNCING” PARAKAN
25 JUNI 2011
BUDIDAYA KOBIS SECARA INTENSIF
Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kecamatan merupakan pusat informasi para petani untuk mencari teknologi yang berada di tingkat Kecamatan. BP3K “BAMBURUNCING” Parakan terdiri dari 3 instansi yaitu UPT DINTANBUNHUT, POPT dan Penyuluh itu sendiri. Dengan jumlah personil sebanyak 4 Penyuluh PNS, 6 THL-TBPP , 1 UPT DINTANBUNHUT dan 1 Pengamat POPT. Untuk mendukung kegiatan penyuluhan maka keberadaan lahan dibalai penyuluhan digunakan untuk percontohan dan demplot yang ditujukan sebagai percontohan bagi kelompok tani / petani di wilayah kerja BP3K Kecamatan Parakan. Dalam pengelolaannya dibantu dengan cara kerjasama antar pihak antara lain, praktisi, dan para formulator produk – produk pertanian.
Tanaman sayuran sangat potensial dibudidayakan di Kecamatan Parakan mengingat daerah Parakan dengan ketinggian tempat ± 700 mdpl yang cocok dengan syarat tumbuh beberapa komoditas sayuran. Sedangkan umumnya para petani di wilayah Kecamatan Parakan telah banyak beralih yang tadinya mutlak petani tembakau, sekarang terdiri dari tanaman lain seperti cabai, tomat, terong, bunga kol, kobis dan lain – lain. Sehingga pada musim tanam tahun 2011 ini lahan BP3K digunakan untuk demplot percontohan tanaman sayuran yaitu Bunga Kol, Kobis dan rencana selanjutnya Cabai.
Dalam demplot sayuran kobis diolah mulai tanggal 2 April 2011 dan dilakukan penanaman pada tanggal 14 April 2011 dengan varietas kobis Grand 11 (Kapal Terbang) Brilliyan (Tunas seed). Bibit kobis yang ditanam sejumlah 5000 tanaman, ditanam Dengan umur bibit 20 Hari setelah semai, lahan yang ditanami kobis diolah secara sempurna dan dibuat bedengan dengan lebar 100 Cm, dan tinggi 30 Cm sedangkan jarak antar bedeng adalah 50 cm, setelah dibuat bedengan selanjutnya bedengan disemprot dengan herbisida Pra tumbuh Gol-Ok dan Paraxone ( Deltagro ) 100 ml per tangki. Dan diberi pupuk dasar sejumlah 1 ons per tan, dengan pupuk yang terdiri dari ZA 50 kg, NPK Phonska 50 kg, SP18 50 kg, Petroganik 40 kg. Dan selanjutnya di semprot dengan pupuk daun Betagro 45 ml/tanki, Betagib 0,5 gram/ tangki, Betalon biru 30 gram/tangki, Betalon merah 30 gram sebanyak 2 x dlm seminggu. Dari bedengan tersebut ditanam bibit dengan jarak tanam 60 cm x 50 cm, setelah umur 1 minggu setelah tanam (mst) dilakukan perawatan dengan cara di semprot dengan pestisida Prado ( Deltagro) dengan dosis 15 ml/tangki dan Metindo 40 SP (MKD). Sebanyak 2 minggu sekali. Karena untuk pencegahan dan pengendalian hama ulat daun yang menyerang tanaman.
Untuk pengairan dilakukan secara intensif dengan mengatur masuk dan keluarnya air yang berasal dari saluran air yang ada disekitar lahan Bp3k Parakan. Pada umur mulai pembungaan dilakukan pemeliharaan untuk mencegah dari hama yang menyerang antara lain ditemukan ulat daun.
Setelah umur tanaman 45 – 55 HST telah terbentuk crop/ telur kobis, dan setelah umur 70 hst dilakukan pemanenan. Dari sampel hasil panen diperoleh rata – rata berat sedangkan dari tanaman kobis diperoleh hasil rata – rata 2 Kg dan hasil 43200 kg per hektar / 43 ton per hektar ( populasi 20.000 tanaman ) dengan polulasi 5000 tanaman didapat hasil 10 ton kobis. Dari komoditas tersebut maka dapat dijadikan percontohan bagi kelompok tani dalam mengusahakan budidaya sayuran terutama komoditas kobis sehingga para kelompok tani dapat maksimal dalam usahanya. Dalam perhitungan usaha tani diperoleh keuntungan dari komoditas bunga kol dengan biaya sarana produksi.(wditut)