pranoto mongso

Selasa, 21 Desember 2010

" P R A N O T O M O N G S O "



APAKAH DENGAN PERUBAHAN IKLIM DI SAAT INI RUMUS " PRANOTO MONGSO " MASIH BERLAKU ????

kebiasaan / titen / hafalan itulah kata yang tersirat dari benak kita, dari jaman dahulu kala telah berlaku suatu tatanan di bidang pertanian, baik ilmu bududaya, pola tanam maupun hama dan penyakit. keberadaan "kitab" yang sering dipakai dalam dasar budidaya tanaman ini telah berlangsung turun temurun dari nenek moyang dan ternyata ketepatan perkiraan yang mendekati " jitu " tetapi bahkan sangat dipercayai oleh banyak petani di tanah jawa pada khususnya.
dengan keadaan yang hampir berubah total dari tahun - tahun dahulu kala, maka jika dihubungkan dengan pranoto mongso yang ada tersebut sulit untuk diterapkan dalam sistem usaha tani disaat ini. dari beberapa petani yang ada, perhitungan - perhitungan dalam perkiraan untuk usaha tani.
dasar dalam menentukan usaha tani di prediksi dengan cara antara lain melihat potensi pasar baik dari kualitas maupun kuantitas, perkembangan produk - produk benih yang terjual banyak, dan bulan - bulan tertentu yang diperkirakan banyak diadakan acara - acara seremonial sesuai kepercayaan dan adat masyarakat setempat.
(mzt14n)

Sabtu, 11 Desember 2010

FORUM WANITA TANI "BAMBU RUNCING " PARAKAN JUARA 1 LOMBA TINGKAT KABUPATEN








Kelembagaan KWT yang ada di seluruh Kecamatan PARAKAN sejumlah 27 aktif yang mana tiap – tiap mempunyai usaha – usaha di sektor pertanian. Pengembangan kelembagaan ini berasal dari pembinaan – pembinaan yang dilakukan rutin oleh penyuluh wilayah masing – masing. Dengan kegiatan yang ada maka dibentuk suatu forum di tingkat Kecamatan dengan nama “ Bambu Runcing ” dengan dasar sebagai ciri khas Kecamatan Parakan.
Adanya Forum wanita tani ini sebagai pendukung Kelembagaan Pertanian karena dinilai telah eksis dan independen dalam berusahatani, khususnya dalam hal pengolahan hasil, industry rumah tangga, pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan terlantar, dan sektor pemasaran hasil. Tujuan adanya forum wanita tani (FWT) adalah untuk saling belajar dan tukar menukar informasi. Di samping itu dengan adanya forum wanita tani tersebut diharapkan terbentuknya jaringan antar kelompok wanita tani yang telah dibina dan kelompok wanita tani di luar yang sudah ada.
seperti ditulis pada website resmi Kabupaten Temanggung, dalam acara lomba olahan jagung pulut, ketela pohon dan lomba merangkai bunga tingkat Kabupaten Temanggung bahwa Forum Wanita Tani " Bambu Runcing " Parakan mendapat juara dalam berbagai lomba.

informasi yang dapat diakses :
http://www.temanggungkab.go.id/detailberita.php?bid=596

40 RESEP OLAHAN JAGUNG DAN KETELA

TEMANGGUNG, Bertempat di Aula Sasana Benih Unggul Dintanbunhut Kabupaten Temanggung, Sabtu (4/12) dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Temanggung dan Hari Ibu untuk meningkatkan kreatifitas wanita tani, Wanita Tani Kabupaten Temanggung mengadakan Lomba Penganekaragaman makanan olahan dari bahan Ketela dan Jagung pulut serta merangkai bunga dari bunga kebun.
Dalam sela-sela meninjau hasil olahan dari Jagung pulut dan ketela Bupati Temanggung Drs. Hasyim Afandi berpesan kepada peserta kita bisa menciptakan aneka kreasi masakan baik dari bahan jagung pulut dan ketela selanjutnya harus dipikirkan bagaimana pemasarannya. Diharapkan apa yang telah di hasilkan dapat menambah pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Ketua Forum Wanita Tani Ibu Sukesi menyampaikan bahwa terbentuknya Forum wanita tani pada tanggal 8 agustus 2007 hanya beranggotakan 30 orang dan sampai sekarang sudah 60 orang dari 20 kecamatan. Pada awalnya pertemuan ibu-ibu bergabung dengan pertemuan bapak-bapak. Dengan bimbingan dari Bapeluh kemudian mengadakan pertemuan sendiri dengant tujuan untuk meningkatkan pendapatan melalui pengolahan hasil pertanian dan peternakan. Selanjutnya setiap 2 bulan sekali diadakan pertemuan dengan berbagai kegiatan seperti memasak, pengetahuan tentang pengemasan yang bagus, ijin usaha, dan pemasaran. Dan apa yang dihasilkan dari beberapa pertemuan dapat dilihat dalam lomba dan bazar yang dilaksanakan saat ini.
Sedangkan Ibu Istiadah selaku panitia melaporkan bahwa lomba olahan dari jagung pulut dan ketela dan merangkai bunga diikuti perwakilan dari 20 kecamatan. Untuk masakan yang dinilai meliputi komposisi bahan, cita rasa, kreatifitas dan penampilan sedangkan untuk lomba merangkai bunga keserasianm komposisi bunga, kebersihan, keindahan dan ketepatan waktu.
Juri Lomba berasal dari PKK Kabupaten, Dharma Wanita Bapeluh dan Ketahanan Pangan, dan Bapermades. Disampaikan Ketua Juri Ny. Ir Hardyat Heru Sasongko, hasil yang diolah cukup menarik, enak dan berfariasi walaupun dalam lomba olahan masih banyak bahan campuran dan bahan dasar lokal yang tidak ada serta untuk merangkai bunga masih kurang dalam komposisi dan sudut pandang yang belum direncanakan.
”Kedepannya PKK Kabupaten siap untuk membimbing kelompok wanita tani yang berminat manambah pengetahuannya” tambahnya.
Pada acara lomba kali ini tercipta 20 resep olahan dari jagung dan 20 resep olahan dari bahan ketela. Antara lain hasil olahan tersebut kue paha jagung, Donat jagung, Geplak, Krawu, Jenang, Bolu, Krawu, Rolade, Dadar lemper Lapis, Rolade. Kroket, Cake , Singnas ceri, Prol Tape, Pastel sampe dengan Pizza Mocal.
Kejuaraan lomba kali ini terdiri dari juara 1, 2, 3 dan harapan 1 dan 2. untuk Lomba Bahan Olahan dari Ketela juara 1 dari kecamatan Tembarak disusul Kecamatan Pringsurat, Kecamatan Kranggan, Kecamatan Wonoboyo dan Kecamatan Kedu. Untuk olahan dari Jagung Juara 1 dari Kecamatan Parakan disusul dari kecamatan Kranggan, Kecamatan Wonoboyo, Kecamatan Jumo dan Kecamatan Tretep. Sedangkan untuk juara merangkai bungan juara 1 dari Kecamatan Tretep disusul kecamatan Kledung, Jumo Tlogomulyo dan selanjutnya harapan 2 Kecamatan Parakan.

WDitut)

FORUM WANITA TANI "BAMBU RUNCING " PARAKAN




PROFIL FWT BAMBURUNCING
Kecamatan Parakan wilayahnya sebagian terletak di lereng Gunung Sindoro dan lereng Gunung Sumbing dan sebagian besar terletak terhampar persawahan dan tegalan serta sungai-sungai sebagai pengairan dan jalan-jalan transportasi untuk kegiatan usaha baik bidang pertanian dan perdagangan lainnya. Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Parakan sebagai berikut : - Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ngadirejo - Sebelah timur berbatasan dengan Kec. Kedu & Jumo, - Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bulu - Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kledung & Bansari.
Wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan Dan Kehutanan Kecamatan Parakan (BP3K Parakan) Kecamatan Parakan terletak di lereng Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing dengan ketinggian tempat berkisar antara 500 s/d 1.200 meter diatas permukaan laut. Ketinggian 800-1.200 m dpl di wilayah Desa Glapansari. Ketinggian 600-800 m dpl di Desa Sunggingsari. Ketinggian 500-600 m dpl di Desa caturanom, Watukumpul. Ketinggian dibawah 500 m dpl di Kelurahan Parakan Wetan, Parakan Kauman, Desa Ringinanom, Desa Dangkel, Desa mandisari, Desa Tegalroso, Desa Traji, Desa Bagusan, Desa Nglondong, Desa Campursalam, Desa Wanu Tengah.
Kelembagaan KWT yang ada di seluruh Kecamatan sejumlah 27 aktif yang mana tiap – tiap mempunyai usaha – usaha di sektor pertanian. Pengembangan kelembagaan ini berasal dari pembinaan – pembinaan yang dilakukan rutin oleh penyuluh wilayah masing – masing. Dengan kegiatan yang ada maka dibentuk suatu forum di tingkat Kecamatan dengan nama “ Bambu Runcing ” dengan dasar sebagai ciri khas Kecamatan Parakan.
Adanya Forum wanita tani ini sebagai pendukung Kelembagaan Pertanian karena dinilai telah eksis dan independen dalam berusahatani, khususnya dalam hal pengolahan hasil, industry rumah tangga, pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan terlantar, dan sektor pemasaran hasil. Tujuan adanya forum wanita tani (FWT) adalah untuk saling belajar dan tukar menukar informasi. Di samping itu dengan adanya forum wanita tani tersebut diharapkan terbentuknya jaringan antar kelompok wanita tani yang telah dibina dan kelompok wanita tani di luar yang sudah ada.
Dengan adanya pembentukan forum wanita tani tingkat Kecamatan maka akan mempercepat transfer teknologi & penggunaan teknologi di masyarakat disesuaikan dengan teknologi apa yang dipakai sehari-hari dalam usaha taninya di sektor - sektor pertanian. Dengan jalan membandingkan teknologi baru dan lama/ lokal lalu dinilai dengan prosentase, sehingga bisa diketahui tingkat teknologi yang diserap. Penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas ditempuh melalui program intensifikasi usaha demi mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama yang berusaha sektor pertanian di Kecamatan Parakan. (MZT14N)

SUSUNAN PENGURUS
FWT BAMBURUNCING PARAKAN
KETUA I : ARIYATI
KETUA II : DEWI ISTANTI
SEKRETARIS I : SITI KHOIRIYAH
SEKRETARIS II : SURATMI
BENDAHARA I : HENI PUJI RAHAYU
BENDAHARA II : FITRI ANINGSIH
SIE SDM : MARTIN PUJI LESTARI
RODHIATUN
ASRIKHAH
SIE PEMASARAN : KIRTI TARBIYAH
ISTIADAH
SITI ROHANAH
SIE USAHA : SOIMAH
WIDAYANTI
SIE KEORGANISASIAN : WAKHIDAYAH
MARFUAH
KUN MARYATI
SIE HUMAS : SRIYATI
ENDANG ERNAWATI
SUTANTI

Kamis, 11 November 2010



PASCA PANEN PADI
(Oriza Sativa)

Padi merupakan tanaman yang paling populer di Indonesia karena mayoritas penduduk Indonesia menggantungkan pemenuhan kebutuhan kalorinya dari beras. Kecamatan Parakan yang terletak di Kabupaten Temanggung juga merupakan salah satu tempat yang memiliki potensi untuk mengembangkan tanaman padi.Produk utama padi adalah beras, sedangkan produk sampingannya adalah jerami, bekatul dan menir (beras remuk yang kecil-kecil).

Beras bukan hanya sekedar komoditas pangan, tetapi juga merupakan komoditas strategis yang memiliki sensitivitas politik, ekonomi dan kerawanan sosial yang tinggi. Demikian tergantungnya masyarakat pada beras, maka sedikit saja terjadi gangguan produksi beras, maka pasokan menjadi terganggu dan harga jual meningkat.

Petani di daerah kita pada umumnya enggan melakukan penanganan pasca penen. Hal ini selain disebabkan karena kurangnya modal usaha yang berujung pada rasa ingin segera memasarkan hasil pertanian juga disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentangan penanganan pasca panen itu sendiri. Penanganan hasil pertanian yang selama ini sering dilakukan petani hanyalah sekedar menjemur untuk menghilangkan kadar air yang terdapat di kulit luar produk itu sendiri, seperti padi, kacang tanah, jagung, kedelai dan lain-lain.


Panen
a. Saat Panen
Panen merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap petani. Panen merupakan kegiatan akhir dari proses produksi di lapangan dan faktor penentu proses selanjutnya. Pemanenan dan penanganan pasca panen perlu dicermati untuk dapat mempertahankan mutu sehingga dapat memenuhi spesifikasi yang diminta konsumen. Penanganan yang kurang hati-hati akan berpengaruh terhadap mutu dan penampilan produk yang berdampak kepada pemasaran.

Sekitar sepuluh hari sebelum panen, sawah harus dikeringkan agar masaknya padi berlangsung serentak. Selain itu, keringnya sawah akan lebih memudahkan pemanenan. Pemanenan padi harus dilakukan pada saat yang tepat. Panen yang terlalu cepat dapat menyebabkan kualitas butir gabah menjadi rendah, yaitu banyak butir hijau atau butir berkapur. Bila hal ini yang terjadi, nantinya akan diperoleh beras yang mudah hancur saat digiling. Sebaliknya, panen yang terlambat dapat menurunkan produksi karena banyak butir gabah yang sudah dimakan burung atau tikus.

Secara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah yang sudah menguning sudah mencapai sekitar 80 % dan tangkainya sudah menunduk. Tangkai padi menunduk karena sarat dengan butir gabah bernas. Untuk lebih memastikan padi sudah siap panen adalah dengan cara menekan butir gabah. Bila butirannya sudah keras berisi maka saat itu paling tepat untuk dipanen.


b. Cara Panen
Secara tradisional, dahulu padi dipanen dengan ani-ani. Hanya saja panen dengan alat ani-ani tersebut agak lambat dan perlu banyak tenaga kerja sehingga tidak efisien. Agar panen dapat berlangsung cepat, alat yang digunakan adalah sabit. Dikatakan cepat karena hanya dengan empat tenaga kerja saja luas areal padi yang dapat dipanen dapat mencapai 2.500 m² untuk waktu setengah hari. Sementara panen dengan ani-ani memerlukan sepuluh tenaga kerja untuk areal yang sama, tetapi waktunya 2 hari. Panen dengan sabit ini hanya disisakan batang setinggi 20 cm dari permukaan tanah.

c. Perontokan
Setelah dipanen, gabah harus segera dirontokkan dari malainya. Tempat perontokan dapat langsung dilakukan di lahan atau di halaman rumah setelah diangkut ke rumah. Namun biasanya untuk menghemat waktu, seringkali perontokan dilakukan di lahan sawah.

Perontokan ini dapat dilakukan dengan perontok bermesin ataupun dengan tenaga manusia. Bila menggunakan mesin, perontokan dilakukan dengan menyentuhkan malai padi ke gerigi alat yang berputar. Sementara perontokan dengan tenaga manusia dilakukan dengan cara batang padi dipukul-pukulkan, malai padipun dapat diinjak-injak agar gabah rontok.

Untuk mengantisipasi agar gabah tidak terbuang saat perontokan maka tempat perontokan harus diberi alas dari anyaman bambu atau lembaran plastik tebal (terpal). Dengan alas tersebut maka seluruh gabah diharapkan dapat tertampung. Setelah dirontokkan, butir-butir gabah dikumpulkan di gudang penyimpanan sementara. Oleh karena tidak semua petani memiliki gudang sementara, pengumpulan dapat dilakukan di teras rumah atau bagian lain dari rumah yang tidak terpakai. Gabah tersebut tidak perlu dimasukkan dalam karung, tetapi cukup ditumpuk setinggi maksimal 50 cm.


Pasca Panen
a. Pengeringan

Agar menjadi tahan lama saat disimpan dan dapat digiling menjadi beras, maka gabah harus dikeringkan. Pengeringan gabah umumnya dilakukan di bawah sinar matahari. Gabah yang dikeringkan ini dihamparkan di atas lantai semen terbuka. Penggunaan lantai semen terbuka ini agar sinar matahari dapat secara penuh diterima gabah. Bila tidak memiliki halaman atau tempat terbuka yang disemen maka halaman tanah pun dapat dipakai untuk penjemuran. Namun, gabah perlu diletakkan pada alas anyaman bambu, tikar atau terpal. Hal ini dilakukan agar gabah tidak bercampur dengan tanah.

Lama jemuran tergantung iklim dan cuaca, bila cuaca cerah dan matahari bersinar penuh sepanjang hari, penjemuran hanya berlangsung sekitar 2–3 hari. Namun, bila keadaan cuaca terkadang mendung atau gerimis dan terkadang panas. Waktu penjemurannya dapat berlangsung lama, sekitar seminggu.

b. Penggilingan
Penggilingan dalam pasca panen padi merupakan kegiatan memisahkan beras dari kulit yang membungkusnya. Dahulu, sebelum dikenal mesin penggilingan padi, petani biasa melakukan penggilingan dengan menggunakan lumpang/lesung dan alu. Namun saat ini, seiring kemajuan jaman dan teknologi, petani lebi suka memanfaatkan jasa-jasa penggilingan baik yang keliling maupun yang menetap. Penggunaan mesin penggilingan padi terbukti lebih efisien dalam tenaga, waktu, dan biaya. Alat yang sering digunakan berupa hulle. Hasil yang diperoleh pada penggilingan dengan alat penggiling gabah ini sama dengan cara tradisional, yaitu pada tahap pertama diperoleh beras pecah kulit. Pada penggilingan tahap kedua, beras akan menjadi putih bersih.

c. Penyimpanan Beras
Beras organik yang sudah digiling secara tradisional maupun modern dapat langsung dipasarkan. Namun, karena umumnya beras tidak langsung dapat dipasarkan seluruhnya maka perlu ada tempat penyimpanan. Teknik penyimpanan beras harus diperhatikan agar kondisinya tetap bagus hingga saatnya akan dijual. Umumnya beras disimpan di gudang setelah dikemas dalam karung plastik berukuran 40 Kg atau 50 Kg. Pengemasan dalam karung ini dilakukan secara manual oleh petani. Bagian karung yang terbuka dijahit tangan hingga tertutup rapat.

Dalam gudang penyimpanan dapat saja beras diserang oleh hama bubuk. Biasanya hama bubuk ini menyerang beras yang tidak kering benar saat pengeringan. Hama bubuk tidak menyukai beras yang kering karena keras. Selain itu, hama bubuk pun menyukai tempat lembab sehingga ruangan gudang harus kering, yang dilengkapi dengan ventilasi udara.

Penumpukan karung berisi beras di dalam gudang pun harus ditata sedemikian rupa agar beras yang sudah lebih dahulu disimpan dapat mudah keluar lebih awal. Akan lebih baik lagi bila setiap karung diberi tanda khusus seperti tanggal penyimpanan.

d. Pemasaran
Ada dua cara pemasaran beras di Indonesia, pertama petani menjual langsung di lahan pada saat sudah siap panen kepada pedagang pengumpul yang disebut penebas. Penebas inilah yang akan memanen dan mengolahnya lebih lanjut menjadi beras. Kedua, petani sendiri yang memanen, mengeringkan, lalu menjualnya ke pedagang pengumpul, baik berupa gabah kering giling atau sudah menjadi beras. Penjualan beras biasanya dilakukan petani langsung kepada pedagang beras di pasar, dititipkan ke pasar swalayan atau dijual langsung ke konsumen.

Bila dijual langsung ke pedagang beras di pasar, keuntungan yang diperoleh hanyalah berupa uang kontan, kerugiannya adalah harga yang diperoleh tidak maksimal karena pedagangpun harus mengambil keuntungan saat dipasarkan lebih lanjut.

Bila dititipkan di pasar swalayan, keuntungan yang diperoleh berupa harga jual yang lebih tinggi. Hanya saja pembayarannya tidak dilakukan secara tunai, melainkan setelah beras tersebut laku terjual. Beras yang dititipkan dikemas dalam plastik yang sudah dilengkapi dengan label.

Bila dijual langsung ke konsumen, harganya memang sama dengan harga jual ke pasar swalayan, bahkan dapat lebih tinggi. Dari segi usaha cara ini kurang praktis karena petani harus mendatangi konsumen satu persatu.
(WD:2010)