pranoto mongso

Kamis, 31 Maret 2011

istilah dan penerapan.....




Sering mendengar, megucapkan dan bahkan telah lama mengenal tapi deskripsinya mungkin kita belum memahami, berikut ini ada artikel yang semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya yang berkecimpung dalam dunia pertanian..


Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa Inggris: crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.

Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.

Kelompok ilmu-ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu pertanian adalah biologi dan ekonomi. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, permesinan pertanian, biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam pertanian. Usaha tani (farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh "petani tembakau" atau "petani ikan". Pelaku budidaya hewan ternak (livestock) secara khusus disebut sebagai peternak.

Kegiatan pertanian (budidaya tanaman dan ternak) merupakan salah satu kegiatan yang paling awal dikenal peradaban manusia dan mengubah total bentuk kebudayaan. Para ahli prasejarah umumnya bersepakat bahwa pertanian pertama kali berkembang sekitar 12.000 tahun yang lalu dari kebudayaan di daerah "bulan sabit yang subur" di Timur Tengah, yang meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Yordania sekarang. Bukti-bukti yang pertama kali dijumpai menunjukkan adanya budidaya tanaman biji-bijian (serealia, terutama gandum kuna seperti emmer) dan polong-polongan di daerah tersebut. Pada saat itu, 2000 tahun setelah berakhirnya Zaman Es terakhir di era Pleistosen, di dearah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang sangat cocok bagi mulainya pertanian. Pertanian telah dikenal oleh masyarakat yang telah mencapai kebudayaan batu muda (neolitikum), perunggu dan megalitikum. Pertanian mengubah bentuk-bentuk kepercayaan, dari pemujaan terhadap dewa-dewa perburuan menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa perlambang kesuburan dan ketersediaan pangan.

Teknik budidaya tanaman lalu meluas ke barat (Eropa dan Afrika Utara, pada saat itu Sahara belum sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia Timur dan Asia Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya jewawut (millet) dan padi sejak 6000 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Asia Tenggara telah mengenal budidaya padi sawah paling tidak pada saat 3000 tahun SM dan Jepang serta Korea sejak 1000 tahun SM. Sementara itu, masyarakat benua Amerika mengembangkan tanaman dan hewan budidaya yang sejak awal sama sekali berbeda.

Hewan ternak yang pertama kali didomestikasi adalah kambing/domba (7000 tahun SM) serta babi (6000 tahun SM), bersama-sama dengan domestikasi kucing. Sapi, kuda, kerbau, yak mulai dikembangkan antara 6000 hingga 3000 tahun SM. Unggas mulai dibudidayakan lebih kemudian. Ulat sutera diketahui telah diternakkan 2000 tahun SM. Budidaya ikan air tawar baru dikenal semenjak 2000 tahun yang lalu di daerah Tiongkok dan Jepang. Budidaya ikan laut bahkan baru dikenal manusia pada abad ke-20 ini.

Budidaya sayur-sayuran dan buah-buahan juga dikenal manusia telah lama. Masyarakat Mesir Kuna (4000 tahun SM) dan Yunani Kuna (3000 tahun SM) telah mengenal baik budidaya anggur dan zaitun.

Sabtu, 26 Februari 2011

RAPAT ANGGOTA TAHUNAN GAPOKTAN "LKMA PUAP" TUTUP TAHUN BUKU 2010 KEC. PARAKAN







PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP)

Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan adalah program yang bertujuan untuk penguatan modal untuk mengembangkan usaha agribisnis. Keberadaan program PUAP di Kecamatan parakan telah berjalan selama 9 - 10 BULAN, sebagai bentuk pertanggungjawaban pengurus LKMA Gapoktan maka dilakukan laporan Pertanggungjawaban dalam bentuk RAT ( Rapat Anggota Tahuan ). Desa penerima PUAP tahun 2009 yaitu Traji, Bagusan, Nglondong, Campursalam, dan Parakan wetan. Dari ke 5 Desa yang mendapat Program ini telah melaksanakan RAT pertama pada bulan januari dan pebruari tahun 2011. Dalam pelaksanaan RAT PUAP dilaporkan perkembangan dana yang semula Rp. 100.000.000 ,00 (seratus juta rupiah) selama 9 - 10 BULAN telah bertambah. Perkembangan dana tersebut bermacam - macam sesuai dengan tingkatan jasa dan prosentase pembagian SHU tiap masing - masing LKMA PUAP. Untuk memperkuat keuangan gapoktan maka tiap - tiap anggota mempunyai kewajiban untuk simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela. Simpanan pokok berlaku untuk setiap anggota mulai dari Rp. 25.000 dan ada pula yang Rp. 50.000,00. Untuk simpanan wajib ditentukan mulai Rp. 1000 - Rp. 2000,- per bulan, sedangkan untuk simpanan sukarela dilakukan untuk membudayakan anggota untuk dapat menabung sehingga memiliki aset didalam gapoktan tersebut.
Dalam realisasi pencairan dana PUAP tersebut digunakan anggota gapoktan untuk berbagai macam usaha dalm sektor pertanian antara lain Budidaya tanaman padi, jagung, cabai, usaha Peternakan domba, usaha pengolahan hasil pertanian dan usaha industri kecil hingga bakulan/ pemasaran produk/ hasil pertanian. sedangkan untuk sistem simpan pinjamnya diatur dalam AD/ ART masing - masing LKMA Gapoktan.
Anggota yang memanfaatkan pinjaman PUAP disesuaikan dengan lama pinjaman / dalam tempo peminjaman mulai dari mingguan, bulanan dan musiman, sehingga perhitungan jasa/ bagi hasil yang diperoleh dapat dihitung dari lama pinjaman tersebut. Peminjaman oleh anggota LKMA di batasi sebesar Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000,- sesuai skala usahanya, dan dengan pengajuan RUA ( Rencana Usaha Anggota ) yang di seleksi oleh pengurus. Dari analisa yang ada ternyata diperoleh data bahwa perkembangan dan terbesar dari sistem peminjaman mingguan karena tingkat perputaran uang lebih cepat.
Dari perkembangan neraca keuangan per 31 Desember 2010 LKMA Gapoktan sebagai berikut :
LKMA GAPOKTAN “ TANI MAJU “ Kel. Parakan Wetan Rp.125.522.500,-
LKMA GAPOKTAN “ SUBUR MAKMUR “ Desa Traji sebesar Rp. 122.806.100,-
LKMA GAPOKTAN “ SUMBER REJEKI “ Desa Bagusan sebesar Rp. 121.212.100,-
LKMA GAPOKTAN “ TRIDADI “ Desa Nglondong Rp. 116.264.700,-
LKMA GAPOKTAN “ GANGSAR “ Desa Campursalam Rp. 113.286.750,-
Dari pengalaman selama kurang dari 1 tahun tersebut ternyata jumlah peminjam bertambah banyak sehingga diusahakan penambahan modal dan kerjasama dari pihak – pihak perbankan dalam rangka memperkuat keuangan LKMA di masing – masing Desa sehingga menambah modal bagi tiap anggota untuk memperbesar usahanya.

Selasa, 01 Februari 2011

deskripsi varietas padi



DESKRIPSI VARIETAS PADI
Deskripsi varietas tanaman padi

1. INPARI 1
Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 952/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008. Ciri-ciri varietas ini bentuk tanaman tegak, dengan tinggi tanaman 93 cm, jumlah anakan produktif
mencapai 16 anakan, dan tekstur nasi pulen. Keunggulan varietas ini adalah ketahanan terhadap wereng batang coklat biotipe 2, serta agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, selain itu varietas INPARI 1 mempunyai ketahanan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri, serta tahan rebah. Umur tanaman yang relatif pendek (108 hari) adalah keunggulan lain dari varietas ini. Yang paling penting dari suatu varietas unggul adalah potensi produksi yang cukup tinggi, rata-rata produksi varietas INPARI 7,32 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG) serta mempunyai potensi produksi 10 ton/ha GKG.

2. INPARI 2
Varietas INPARI 2 termasuk golongan cere, dengan umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 85-95 cm, dengan jumlah anakan 15 anakan. Potensi hasil Varietas ini adalah 7,30 ton/ha dengan rata-rata hasil 5,83 ton/ha. Varietas ini cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl. Varietas INPARI 2 agak tahan terhadap hama wereng batang coklat, penyakit hawar daun bakteri, penyakit virus tungro. Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 951/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

3. INPARI 3
Varietas INPARI 3 cocok ditanam pada lahan irigasi dengan ketinggian sampai 600 m dpl. Varietas ini termasuk dalam golongan cere, dengan umur tanaman 110 hari. Potensi hasil varietas yang dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 953/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008 ini mencapai 7,52 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,05 ton/ha. Varietas ini tahan terhadap hama wereng batang coklat dan agak tahan terhadap penyakit Hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro inokulum variasi 073, 013 dan 031.

4. INPARI 4
Tidak begitu berbeda dengan Varietas INPARllainnya, INPARI4 juga memiliki ketahanan terhadap ham a . wereng batang coklat, dan agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, serta agak tahan penyakit virus tungro inokulum varian 073 dan 031. Potensi hasil 8,80 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,04 ton/ha. Varietas ini termasuk dalam golongan cere dengan umur tanaman 115 hari, tinggi tanaman 95-105 cm, dan 16 jumlah anakan. Varietas INPARI4 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 954/Kpts/SR.120/7/2008
Tanggal 17Juli 2008.

5. INPARI 5 MERAWU
Varietas INPARI 5 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 955/Kpts/SR.120/7/2008 tanggal 17 Juli 2008. Varietas ini termasuk golongan cere, dengan umu! tanaman 115 hari, tinggi tanaman 100-105 cm, dan jumlah anakan 15 anakan. Varietas INPARI 5 agak rentan terhadap hama wereng batang coklat Biotipe I, 2, dan 3, tetapi varietas ini agak tahan terhac:lap penyakit hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro nokulum varian 073 dan 031. Padaumumnya varietas . INPARI 5 cocok ditanam pada lahan irigasi dengan ketinggian sampai dengan 600 m dpl.

6. IN PARI 6 JETE
Termasuk golongan cere indica dengan umur tanaman 118 hari, tinggi tanaman 100 cm, jumlah anakan 15 batang. INPARI 6 memiliki tekstur nasi sangat pulen dengan kadar amilosa 18 %. Potensi produksi varietas INPARI 6 produktivitas 8,60 ton/ha GKG; 12 ton/ ha GKG. Varietas ini tahan rebah, serta tahan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 2 dan 3 serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, IV dan strain VIII. Varietas INPARI 6 JETE diiepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 956/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

Inbrida Padi Rawa (IN PARA) Inbrida Padi Rawa adalah varietas-varietas unggul padi yang baik dibudidayakan pada kondisi lahan rawa, tahan terhadap rendaman, serta daya adaptasi pada kondisi lahan masam. Macamnya :

I. INPARA I
Varietas INPARA I termasuk dalam golongan Cere Indica, dengan umur tanaman 131 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman III cm, jmlah anakan produktif varietas INPARA I dapat mencapa 18 anakan. Apabila ditanam pada kondisi lahan rawa lebak rata-rata hasil dapat mencapai 5,65 ton/ha, sedangkan apabila ditanam pada kondisi lahan rawa pasang surut rata-rata hasllnya lebih rendah yaitu 4,45 ton/ha. Varietas INPARA I memiliki potensi hasil cukup tinggi yaitu 6,47 ton/ha. lahan rawa, baik rawa lebak maupun rawa pasang surut umumnya mengandung Fe dan AI cukup tinggi, kedua unsur ini apabila dalam kondisi banyak dapat menyebabkan keracunan pada tanaman.
Varietas IN PARA I memiliki toleransi keracunan Fe dan AI serta agak tahan terhadap serangan wereng batang coklat Biotipe I dan 2, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan bias. Varietas ini cocok ditanam di daerah rawa lebak dan rawa pasang surut. Varietas INPARA I dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 957/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

2. INPARA 2
INPARA 2 merupakan varietas yang termasuk dalam golongan cere indica, varietas ini agak tahan terhadap wereng batang coklat Biotipe 2 serta tahan terhadap hawar daun dan blass, serta memiliki toleransi terhadap keracunan Fe dan AI. INPARA 2 baik ditanam pada lahan pasang surut dan lahan rawa lebak. Ciri dari varietas ini adalah umur tanaman 128 hari, bentuk tanaman tegak, ketahanan terhadap rebah sedang, tinggi tanaman 103 cm dengan jumlah anakan produktif mancapai 16 batang. Potensi hasil INPARA 2 mencapai 6,08 ton/ha dengan rata-rata hasil pada lahan rawa lebak 5,49 ton/ha, dan pada lahan rawa pasang surut 4,82 ton/ha. Varietas INPARA 2 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 958/Kpts/SR.120/7!2008 tanggal 17Juli 2008.

3. INPARA 3
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 960/Kpts/SR.120/7I2008 Tanggal 17 Juli 2008 Varietas INPARA 3 dilepas. INPARA 3 agak toleran rendaman selama 6 hari pada fase vegetatif, agak toleran keracunan Fe dan AI, baik ditanam di daerah rawa lebak, rawa pasang surut potensial dan di sawah
irigasi yang rawan terhadap banjir. Varietas INPARA 3 termasuk dalam golongan cere indica, tekstur nasi pera, dengan umur tanaman 127 hari, tinggi tanaman 108 cm, bentuk tanaman tegak, dengan jumlah anakan produktif 17 anakan. Potensi hasillNPARA 3 mancapai 5,6 ton/ha, dengan rata-rata hasil 4,6 ton/ ha GKG.

Sumber :
http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/241/
(mzt14n)

Selasa, 21 Desember 2010

" P R A N O T O M O N G S O "



APAKAH DENGAN PERUBAHAN IKLIM DI SAAT INI RUMUS " PRANOTO MONGSO " MASIH BERLAKU ????

kebiasaan / titen / hafalan itulah kata yang tersirat dari benak kita, dari jaman dahulu kala telah berlaku suatu tatanan di bidang pertanian, baik ilmu bududaya, pola tanam maupun hama dan penyakit. keberadaan "kitab" yang sering dipakai dalam dasar budidaya tanaman ini telah berlangsung turun temurun dari nenek moyang dan ternyata ketepatan perkiraan yang mendekati " jitu " tetapi bahkan sangat dipercayai oleh banyak petani di tanah jawa pada khususnya.
dengan keadaan yang hampir berubah total dari tahun - tahun dahulu kala, maka jika dihubungkan dengan pranoto mongso yang ada tersebut sulit untuk diterapkan dalam sistem usaha tani disaat ini. dari beberapa petani yang ada, perhitungan - perhitungan dalam perkiraan untuk usaha tani.
dasar dalam menentukan usaha tani di prediksi dengan cara antara lain melihat potensi pasar baik dari kualitas maupun kuantitas, perkembangan produk - produk benih yang terjual banyak, dan bulan - bulan tertentu yang diperkirakan banyak diadakan acara - acara seremonial sesuai kepercayaan dan adat masyarakat setempat.
(mzt14n)